Situs peninggalan sejarah yang terjarah

Standard

Hidup di negara yang kaya akan sumber daya alam dan kekayaan budaya tak berarti dapat menjamin kemakmuran hidup di dalamnya. Begitu banyak kasus yang jauh dari nasionalisme kita sebagai bangsa Indonesia. Jiwa cinta tanah air yang terus digembar-gemborkan pemerintah tak cukup mampu mendobrak hati sebagian masyarakat indonesia yang sebagian besar hidup dalam kemiskinan dan pendidikan yang rendah.

Miris. Penjarahan dan penjualan ilegal situs-situs sejarah seperti arca, keramik, dan batu-batu peninggalan sejarah ternyata sudah semakin parah. Peninggalan-peninggalan sejarah yang masih banyak terdapat dalam tanah Indonesia, habis-habisan diambil dan kemudian dijual untuk kepentingan pribadi. Pengrusakan ini di lakukan warga dengan menggali tanah yang tidak butuh waktu dan tenaga banyak untuk dapat diketemukan berbagai barang-barang antik peninggalan sejarah.

Pengambilan situs dan barang peninggalan sejarah ini terjadi di Trowulan yang merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia. Kecamatan ini terletak di bagian barat Kabupaten Mojokerto, berbatasan dengan wilayah Kabupaten Jombang. Merupakan daerah dengan puluhan situs seluas hampir 100 kilometer persegi berupa bangunan, temuan arca, gerabah, dan pemakaman peninggalan Kerajaan Majapahit.

Diduga kuat, pusat kerajaan berada di wilayah ini yang ditulis oleh Mpu Prapanca dalam kitab Kakawin Nagarakretagama dan dalam sebuah sumber Cina dari abad ke-15. Trowulan dihancurkan pada tahun 1478 saat Girindrawardhana berhasil mengalahkan Kertabumi, sejak saat itu ibukota Majapahit berpindah ke Daha (id.wikipedia.org)

Tak heran apabila warga di sekitar mudah mendapatkan sisa-sisa peninggalan sejarah. Diketahui pula terdapat 48 situs sejarah dan 80 ribu barang prasejarah. Namun, warga yang menemukan situs dan peninggalan barang tersebut setelah dilaporkan kepada balai kelestarian barang peninggalan sejarah,  tidak mendapatkan respon apapun. Warga menjadi enggan untuk melapor kembali dan timbullah penyalahgunaan wewenang. Warga menjadi mengusahakan hal ini dalam bidang materi. Tentunya secara ilegal.

Seperti pengalaman salah satu warga yang telah 7 tahun menyewa tanah untuk keperluan usaha batu batanya. Selama itu pula banyak diketemukan barang peninggalan sejarah  yang sudah terpendam sejak zaman majapahit dahulu. Namun, lagi dan lagi penemuan tersebut tidak mendapatkan respon dari pihak purbakala.

Keuntungan yang didapat dari menjual barang dan situs prasejarah ini cukup menggiurkan. Biasanya warga menjualnya ke penadah dengan harga 3-5 juta rupiah. Diketahui penadah ini berpura-pura menjadi pemahat arca. Yang dapat membedakan mana arca yang baru dibuat ataupun yang benar-benar arca asli atau sudah lama dibuat.

Kemudian penadah menjual kepda kolektor dengan harga lebih besar hingga 3-5x lipat. Akan bertambah lagi nilai jualnya apabila sudah dijual ke luar negeri yaitu sampai puluhan kali lipat berkisar 50 juta atau lebih. Lebih banyak di jual ke Eropa, Amerika maupun Australia. Sangat menggiurkan. Menjadikan usaha ilegal ini menjadi ladang subur para pencari keuntungan.

Ternyata, bukan hanya warga setempat yang melakukan aksi penjarahan ini namun juga instansi pemerintah. Siapa sangka petugas museum maupun tukang sapunya terlibat bsinis haram ini. Mereka kadang menukarkan benda peninggalan sejarah yang asli yang ada di museum dengan benda peninggalan sejarah palsu yang sebelumnya telah dibuat atau di duplikat sebelumnya hasil dari pemahat yang mereka pesan.

Mereka umumnya mempelajari seluk beluk pembuatan arca ataupun situs lainnya serta jenis-jenis batunya. Begitu panjang sindikat penjualan barang peninggalan sejarah ini dan sangat mencengangkan museum menjadi salah satu tempat nyaman untuk transaksi bisnis ilegal ini. Anggaran 37 miliar dinilai kurang untuk museum dapat melakukan pemeliharaan dan perlindungan barang-barang peninggalan sejarah lainnya, menurut kepala bidang pelestarian barang purbakala.

Kita hanya tahu berbagai situs, patung, arca ataupun barang peninggalan sejarah lainnya dari museum-museum sejarah yang biasa kita kunjungi, padahal di luar sana masih banyak dan melimpah berbagai peninggalan yang belum di ekspose dan mungkin diabaikan oleh pihak yang terkait yaitu bidang purbakala dan arkeologi. Bukan hanya di daerak Trowulan saja tidak menutup kemungkinan daerah-daerah di Indonesia yang lain juga mengusahakan bisnis ini.

Sebagai masyarakat yang tinggal dan hidup bersama-sama di Indonesia sudah sepatutnya menjaga dan melestarikan berbagai peningalan sejarah, tak perduli dari daerah mana. Siapa lagi yang dapat menjaga negara kita ini selain kita semua warga Indonesia yang tinggal di dalamnya. Jangan lagi ada bagian pulau Indonesia yang direbut oleh negara lain, jangan lagi adanya pengambilan dan pengakuan lagu serta budaya oleh negara lain. Indonesia masih milik kita dan untuk selamanya. (Jeny Widya Pangestika)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s